Filosofi Tri Hita Karana Hindu Bali

 Filosofi Tri Hita Karana Hindu Bali


Makna Tri Hita Karana merupakan sebuah konsep spiritual, kearifan lokal, sekaligus falsafah hidup masyarakat Hindu Bali yang bertujuan untuk membentuk keselasaran hidup manusia (kitapastibisa.id)

konsep tri hita karana
Konsep Tri Hita Karana



Tri Hita Karana berasal dari kata Tri yang berarti tiga, Hita yang berarti kebahagiaan dan Karana yang berarti penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana berarti “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan”


 
tri hita karana konsep parahyangan
Perayaan Hari Raya Galungan

Konsep Tri Hita Karana mengandung prinsip manusia harus menghargai segala aspek kehidupan yang ada di sekelilingnya. Pelaksanaannya harus seimbang dan selaras antara satu dengan yang lainnya. Konsep ini diyakini dapat melestarikan budaya dan lingkungan masyarakat Bali meski berada dalam dinamika perubahan sosial yang terjadi sekarang. 


penjor galungan bali
Penjor Perayaan Hari Raya Galungan Bali


Istilah Tri Hita Karana muncul pada tahun 1969, dalam seminar tentang
desa adat. Pada kesempatan itu (Kaler, 1969 dalam Wiana, 2004 : 265)
mengimplentasikan Tri Hita Karana dalam wujud tata ruang, dan tata aktivitas
dalam desa adat Bali. Unsur-unsurnya disebutkan meliputi Parahyangan (hubungan
yang harmonis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa), Pawongan
(hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia), dan Palemahan
(Hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam lingkungan). Meskipun
konsep Tri Hita Karana pada dasarnya adalah sebuah landasan yang bersumber dari agama Hindu, sejatinya Tri Hita Karana adalah konsep universal yang ada pada semua ajaran agama di dunia (Windia dan Dewi, 2011).



ibadah hari raya galungan bali
Ibadah Hari Raya Galungan Bali
(photo by kompas.com)



Tujuan dari Tri Hita Karana adalah mencapai kebahagiaan hidup melalui proses
harmonis dan kebersamaan. Selanjutnya tujuan Tri Hita Karana tersebut, sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Hal ini berarti bahwa lingkungan alam, lingkungan
manusia/masyarakat, dan lingkungan pola pikir/konsep/nilai yang berkembang
dalam masyarakat Bali akan dapat mempengaruhi tujuan akhir yang akan dicapai oleh
filsafat Tri Hita Karana. (Windia dan Dewi, 2011)




3 Konsep Tri Hita Karana

1. Parahyangan

tri hita karana dalam konsep parahyangan
Penerapan Tri Hita Karana Konsep Parahyangan

Parhyangan merupakan hubungan Manusia dengan Tuhan, yang menegaskan bahwa kita harus selalu sujud bakti kepada Tuhan, Sang Pencipta Alam Semesta beserta isinya. Ini merupakan bentuk hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan. Bentuk pelaksanaan konsep parahyangan ini adalah melaksanakan ajaran-ajaran agama, melaksanakan kegiatan upacara keagamaan, dan membangun tempat sembahyang. Menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan tentu kita pun harus selalu berada didalam jalan-Nya,menjauhi larangan-Nya dan  selalu rajin sembahyang dengan tujuan mengucap syukur atas segala berkah maupun kesulitan yang sedang kita hadapi agar diberikan petunjuk dan Tuhan menjadikan kita pribadi yang semakin baik kedepannya. 




2. Palemahan

penerapan tri hita karana konsep palemahan

Palemahan merupakan hubungan manusia dengan lingkungan/alam. Lingkungan/alam ini mencangkup tumbuh-tumbuhan, binatang dan hal-hal lain. Dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita. Manusia diharuskan menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Konsep palemahan mengajarkan bahwa kehidupan manusia merupakan bagian dari alam sehingga jika alam rusak maka kehidupan manusia juga akan terganggu. Sehingga dapat terwujud keseimbangan dan keselarasan hidup. 




3. Pawongan


Pawongan merupakan hubungan manusia dengan sesamanya, manusia diharuskan membentuk hubungan yang selaras dengan manusia lainnya. Hubungan yang selaras tersebut dapat diwujudkan dalam hubungan dalam keluarga, hubungan dalam persahabatan, dan hubungan dalam pekerjaan. Pawongan mempunyai makna kita harus bisa menjaga keharmonisan hubungan dengan keluarga, teman dan masyarakat. Dalam menjaga keharmonisan tentunya jauhkanlah sikap saling membeda-bedakan berdasarkan derajat, agama ataupun suku. Sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan, manusia diajarkan untuk tidak membeda-bedakan ciptaannya dan dapat belajar menghargai arti perbedaan. 





banten ajuman canang sari
Canang Sari Banten Ajuman

Pada dasarnya hakikat ajaran tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan ke Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan menghindari daripada segala tindakan buruk. Hidupnya akan seimbang, tenteram, dan damai.









Komentar

Postingan Populer