Makna Banten Ajuman dalam Hari Raya Galungan Bali
Makna Banten Ajuman Dalam Perayaan Hari Raya Galungan Bali
![]() |
| Perayaan Hari Raya Galungan Bali |
Upacara Galungan, dirayakan oleh umat Hindu di Bali setiap 210 hari, dengan menggunakan perhitungan Kalender Bali. Hari Raya Galungan ialah hari dimana umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta jagad raya beserta seluruh isinya. Serta merayakan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma).
![]() |
| Model @ayuansarr Fotografer @wahyu_ekayana |
Dalam perayaan Hari Raya Galungan & Kuningan, salah satu banten (persembahan) yang sering dihaturkan adalah banten Ajuman atau biasa disebut juga Soda atau Rayunan. Banten Ajuman atau Rayunan merupakan sarana yang dipakai untuk memuliakan Hyang Widhi. Nama Ajuman sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ngajum, menghormati, sujud kepada Hyang Widhi.
"Sampian Sodan bermakna simbol bahwa dalam memuja Hyang Widhi, manusia harus menyerahkan diri secara totalitas dan jangan banyak mengeluh, karunia Hyang Widhi akan turun ketika bhakta-Nya telah siap. Dan, dapat pula diartikan sampian itu sebagai keteguhan hati," ujar Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yaska Charya Manuaba. (BaliExpress)
Telompokan atau Dua Buah Penek
![]() |
| Isian Banten Ajuman |
Tamas atau Taledan
![]() |
| Bokor Tamas Boma Medayu |
Jaje Gina dan Buah-buahan
![]() |
| Isian Banten Ajuman |
Ada juga unsur jaje gina dan buah – buahan dalam banten Ajuman, yang fungsinya sebagai perwujudan syukur atas rezeki berupa makanan sehingga membuat manusia tetap hidup. Dikatakannya, dalam lontar Tegesing Sarwa Banten dipaparkan mengenai makna penggunaan buah yakni 'Sarwa wija, nga; sakalwiring gawe, nga; sane tatiga ngamedalang pangrasa hayu, ngalangin ring kahuripan.
Canang Sari
![]() |
| Canang Sari Banten Ajuman |
Satu lagi pelengkap banten Ajuman, yaitu canang sari atau canang genten. Canang sari merupakan inti dari pikiran dan niat yang suci sebagai tanda bhakti atau hormat kepada Hyang Widhi, ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian. "Jika sebuah banten tidak dilengkapi Canangsari, maka banten tersebut dikatakan tidak sah atau kurang lengkap,” ujar Ida Pandita. Di sisi lain, ia juga memaparkan, Canangsari adalah suatu upakara atau banten yang selalu menyertai, melengkapi setiap sesajen (persembahan)
![]() |
| Perayaan Hari Raya Galungan di Pura Besakih |
Jero Gede Suyasa juga menambahkan, jika memasuki areal suci pura hendaknya masuk melalui Candi Kurung atau gelung kori, yang merupakan lambang Gunung Mahameru, yang senantiasa memberikan berkah kemakmuran terhadap alam semesta beserta isinya. Candi Kurung atau gelung adalah sebuah konsep menyatunya alam pikiran kemanusiaan dengan alam kedewaan, sehingga membentuk kuwung, kurung, gelung, windu, dan sunia.










Komentar
Posting Komentar